SEKILAS TENTANG MUSISI.BLOGSPOT.COM

Pencarian

Subhanallah maha besar Allah yang telah menitipkan mahakarya seindah ini di Pulau kami tercinta Desa Pongok..Tak banyak yang menyadari keidahan yang tersimpan di lubuk laut Dan buat semua pengunjung blog ini..Kami tunggu kunjungan anda dalam bentuk nyata untuk lebih menyelami keindahan2 lain yang ada di pulau kami..tentu saja tak kalah indahnya dengan pulau2 wisata yang telah lebih dahulu tersohor di mata nasional maupun internasional serupa Bali..Saya pribadi sebagai salah seorang putra Pongok dengan segenap hati berani menjamin keindahan bawah laut di Desa kami adalah keindahan natural yang masih segar dan klasik...We are welcome for any visitor !!!

Kasus Ginset desapongok

Pimpinan PT Anos Melapor ke Polisi
Kabel Diputus, Tiang Ditumbang

Pimpinan PT Anos Melapor ke Polisi

“Sedangkan untuk pemasangan seharga Rp 2 juta sudah melalui sosialisasi. Bahkan pihak desa pun sepakat untuk menyediakan 80 tiang listrik dari pohon kayu supaya jaringan listrik bantuan hibah dari pemerintah itu bisa dimanfaatkan. Terus terang dengan adanya polemik soal pemasangan kWh menimbulkan keresahan di tengah warga kami,” kata Sarifudin.
impinan PT Anos Melapor ke Polisi
Kabel Diputus, Tiang Ditumbang

edisi: 07/Jan/2008 wib
LEPARPONGOK, BANGKA POS - Pimpinan PT Anos, Alam (36) mendatangi Polres Bangka Selatan (Basel). Ia melaporkan pengrusakan aset-aset perusahaannya di Desa Pongok oleh pihak-pihak tertentu pada tanggal 27 Desember 2007 lalu.
Selain itu, Alam juga melaporkan pengancaman terhadap karyawannya sebagai buntut pemasangan kWh ke rumah-rumah warga dalam proyek bantuan hibah genset untuk penerangan dari Pemkab Basel di daerah terpencil.

“Untuk aset-aset yang dirusak berupa pemutusan kabel jaringan listrik sepanjang puluhan meter, berikut dengan ditumbangkannya beberapa tiang listrik yang terbuat dari kayu. Selain itu, beberapa karyawan kita yang sedang bekerja juga diancam oleh oknum tertentu terkait polemik pemasangan kWh ke rumah penduduk. Bahkan Iwan alias Ling warga Desa Pongok menjadi korban malam itu, karena lehernya terjerat kabel yang melintang di tengah jalan,” ungkap Alam kepada Bangka Pos Group baru-baru ini di Mapolres Basel.

Menurutnya, selaku pihak yang memenangkan tender pengadaan dan pemasangan genset listrik untuk seluruh Kabupaten Basel, yakni di Desa Paku, Desa Batu Betumpang, Desa Simpangrimba, dan Desa Pongok maka sudah menjadi tanggungjawab sekaligus kewajiban pihaknya memasang kWh di rumah-rumah warga. Tentunya dengan menyesuaikan kapasitas mesin genset yang terpasang.

Mengenai patokan harga Rp 2 juta per 1 unit kWh sudah diketahui perangkat desa. Sejauh ini, tidak satupun warga Desa Pongok yang keberatan sebab 1 Kwh itu bisa untuk mencukupi 2-5 bubung rumah sehingga biaya pengadaannya bisa ditanggung bersama.

“Tapi tiba-tiba, baru sekitar seminggu atau kita baru memasang 101 unit kWh di rumah warga, mendadak ada yang ikut masang kWh dengan hanya mematok harga Rp 1 juta tanpa seizin perangkat desa, dan tanpa koordinasi dengan kami selaku penanggungjawab terhadap genset listrik jika nanti sampai terjadi kelebihan beban pemakaian,” ujarnya.

Padahal, katanya, sebagai kontribusi terhadap desa, pihaknya berjanji siap membantu memajukan desa tersebut dalam bentuk sumbangan untuk kas desa sebesar Rp 5.000 untuk setiap unit kWh yang terjual. Selain itu, memasang kWh secara gratis untuk penerangan tiga masjid yang di Desa Pongok.

Timbulkan Keresahan

Sementara Sarifudin, salah satu perangkat Desa Pongok yang juga berhasil ditemui harian ini di Mapolres Basel usai melapor adanya upaya pengancaman terhadap warganya secara tegas mengatakan, pihak yang memasang kWh dengan biaya Rp 1 juta tidak pernah minta izin kepada perangkat desa.

“Sedangkan untuk pemasangan seharga Rp 2 juta sudah melalui sosialisasi. Bahkan pihak desa pun sepakat untuk menyediakan 80 tiang listrik dari pohon kayu supaya jaringan listrik bantuan hibah dari pemerintah itu bisa dimanfaatkan. Terus terang dengan adanya polemik soal pemasangan kWh menimbulkan keresahan di tengah warga kami,” kata Sarifudin.

Menurutnya, pada hari Kamis (27/12) malam, beberapa oknum warga yang merasa tidak senang dengan pemasangan listrik di desanya dengan sengaja merusak dan merobohkan tiang listrik, serta memutuskan kabel jaringan.

“Bahkan satu warga kami bernama Iwan yang sedang melintas di jalan malam itu sempat terjerat lehernya oleh kabel yang dengan sengaja dipasang melintang di tengah jalan pada malam itu juga,” kata Sekretaris Desa Pongok ini. (abm
Menurutnya, pada hari Kamis (27/12) malam, beberapa oknum warga yang merasa tidak senang dengan pemasangan listrik di desanya dengan sengaja merusak dan merobohkan tiang listrik, serta memutuskan kabel jaringan.

“Bahkan satu warga kami bernama Iwan yang sedang melintas di jalan malam itu sempat terjerat lehernya oleh kabel yang dengan sengaja dipasang melintang di tengah jalan pada malam itu juga,” kata Sekretaris Desa Pongok ini. (abm

SAWAH PONGOK

lEPAR PONGOK, BANGKA POS -- Untuk membantu ketersediaan beras di wilayah kepulauan, Pemkab Bangka Selatan mengembangkan pencetakan sawah di Pulau Pongok seluas 23 hektare (Ha) sekitar empat bulan yang lalu dan dalam waktu dekat ini akan segera dipanen.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Basel, Ahmad Damiri kepada Bangka Pos Group, Senin (6/7) di ruang kerjanya menjelaskan pembukaan areal persawahan tidak hanya di wilayah daratan, tetapi juga di daerah kepulauan. Hal ini selain untuk mengembangkan potensi pertanian sawah juga untuk mengantisipasi ketersediaan beras di wilayah kepulauan.

“Kalau musim ombak besar, warga di daerah kepulauan mungkin kesulitan melakukan aktivitas jual-beli bahan pokok khususnya beras ke luar daerah, seperti ke Sadai dan Toboali. Maka kita usahakan agar pertanian, perkebunan sawah maupun ladang di daerah kepulauan dikembangkan, sehingga bisa tersedia beras di daerah kepulauan, paling tidak untuk kebutuhan masyarakat di kepulauan,” kata Damiri.

Damiri menambahkan, jumlah masyarakat yang terlibat dalam kelompok tani persawahan mencapai sekitar 100-an orang dengan setiap KK mendapatkan 1/4 Ha. Anggaran yang disediakan sebanyak 25 Ha, namun ada kendala di lapangan sehingga sekitar 1,5 Ha tidak dikembangkan.

Anggaran yang diberikan sejak pencetakan hingga penanaman, pemeliharaan sebanyak Rp 7,2 juta setiap hektare. Dan yang ada disalurkan langsung ke rekening masing-masing kelompok untuk dikelola sesuai dengan rencana kebutuhan.

“Kita bersyukur, semangat masyarakat kepulauan untuk mengembangkan pertanian persawahan cukup baik. Sambil mereka melaut, mereka juga mengusahakan persawahan. Bibit yang ditanam jenis Ciherang. Rencananya dalam bulan ini akan dipanen. Hasil peninjauan lapangan sebelum panen, kualitas padi dan produksinya cukup baik,” ungkap Damiri.

Damiri menjelaskan lahan pencetakan sawah yang dikembangkan sekarang adalah eks lahan sawah pada masa pemerintahan Jepang, namun ditinggalkan masyarakat.

“Selain di Lepar Pongok, pada tahun anggaran 2009, Pemkab Basel juga akan mengembangkan pencetakan sawah baru di daerah Kepulauan Tanjung Labu,” ujarnya.

Terpisah Camat Lepar Pongok, Marsanti kepada Bangka Pos Group, Senin (6/7) menjelaskan minat masyarakat Kecamatan Lepar Pongok untuk mengusahakan perkebunan semakin meningkat.

“Selain sawah, masyarakat di daerah kepulauan terus mengembangkan perkebunan sawit dan karet,” katanya.
Menurut Marsanti dengan adanya budaya pertanian sawah padi, bisa membantu ketersediaan beras di wilayah kepulauan. Apalagi harga beras di daerah kepulauan lebih tinggi dari daerah daratan, di mana berbeda sekitar Rp 500-Rp 2000/kg.

“Jika masyarakat sudah bisa menghasilkan beras di kebun sawah sendiri, akan sangat membantu pemenuhan kebutuhan pangan di wilayah kepulauan,” harapnya. (J2)

Dua Kapal Terbakar di Lepong

Dua Kapal Terbakar di Lepong
Jumlah Korban Masih Simpangsiur

edisi: 07/Nov/2007 wib
LEPONG, BANGKA POS - Korban musibah terbakarnya dua kapal nelayan di Perairan Merun pada Kamis (11/11) lalu masih simpang siur. Ada yang mengatakan, tiga nelayan tewas namun ada juga yang mengatakan hanya satu nelayan yang tewas.
Seperti diungkapkan Namin, warga Desa Tanjung Labu kepada Bangka Pos Group, Senin (5/11) via ponselnya. Menurutnya, salah satu korban tewas adalah Sulaiman. Ia tewas di tempat kejadian perkara (TKP) di antara Desa Tanjung Labu Pulau Lepar dengan Desa Pongok Pulau Pongok sesaat setelah peristiwa terbakarnya dua kapal nelayan yang sedang mengangkut BBM ilegal dari kapal tugboat.

“Korban lainnya yang tewas adalah Syamsul. Dia tewas dalam perjalanan menuju ke Belitung untuk diobati. Sedangkan Popo menjadi korban ketiga yang tewas setelah menjalani pengobatan lebih lanjut di RSUD Belitung,” kata Namin.

Bahkan, katanya, tiga jasad nelayan yang mengalami musibah itu telah dimakamkan di Desa Pongok Kecamatan Lepong beberapa hari lalu. “Jadi informasi terakhir yang kami peroleh menyebutkan tiga korban tewas yakni Sulaiman, Popo, dan Syamsul,” ujarnya.

Berbeda dengan pernyataan Kades Pongo, Hairul Azuar saat datang ke Biro Bangka Pos Toboali, Selasa (6/11) malam yang menyatakan, cuma satu nelayan yang tewas yakni Pak Po alias Popo. Korban meninggal setelah sempat diselamatkan dan sudah berada di Desa Pongo. Sedangkan Sulaiman, katanya, hingga kini masih belum ditemukan sejak terjatuh ke laut lima hari lalu. “Untuk korban yang meninggal dalam musibah itu cuma satu orang saja, yakni Popo. Memang dalam waktu yang bersamaan ada juga warga kita yang meninggal. Tapi
meninggalmya bukan karena musibah kapal terbakar itu namun karena sebab lain dan kejadian meninggalnya di Tanjungpandan Belitung yang langsung dibawa ke Desa Pongok. Namanya Rikar anak dari Kamaludin,” kata Hairul.

Disinggung keberadaan para korban lain, ia yang baru saja bertolak dari Desa Pongok menyatakan bahwa mereka kini sudah berkumpul bersama keluarganya di Desa Pongok dalam kondisi sehat walaupun ada yang mengalami luka bakar dan masih dalam tahap penyembuhan.

Seperti dilansir harian ini, Jumat (2/11) dua buah kapal nelayan terbakar di perairan Laut Merun antara Tanjung Labu Pulau Lepar dengan Pulau Pongok Kecamatan Lepar Pongok Bangka Selatan, Kamis (1/11) sore. Awalnya, disebutkan satu orang hilang dan lima lainnya mengalami luka bakar.

Jumat (2/11), aparat dari Pos Polairud Sadai dan Polsek Lepar Pongok turun ke tempat kejadian perkara (TKP). Kapos Polairud Sadai Bripda Fajar Rudianto seizin Dir Polairud Polda Babel Kompol Rudi Hermanto, mengatakan, pihaknya tidak menemukan bangkai kapal di TKP. Kemudian rombongan ke daratan Pulau Pongo. Dari informasi masyarakat, seluruh korban selamat. (abm)

GAMBAR PTK







Pelatihan PTK daerah terpencil tahun 2009


Ada 18 orang saja yang mengikuti yaitu dari bangka selatan 6 orang,belitung timur ada 6 orang dan bangka tengah ada 6 orang.